Monday, November 2, 2015

CRUSH IN RUSH - BAB 1

Kiara terlambat datang bekerja!
Dengan napas terengah Kiara setengah berlari menuruni bus kota itu sambil menyumpah-nyumpah mengutuki dirinya sendiri. Kalau saja tubuhnya tidak terasa begitu lelah, Kiara pasti tidak akan memutuskan tidur lagi siang tadi. Dia berpikir hanya tidur satu jam saja karena rasa mengantuk menderanya begitu kuat. Tetapi bodohnya dia lupa menyalakan alarm.
Ketika terbangun, matahari sudah menyembunyikan diri di balik cakrawala, membiarkan bulan menggantikan tugasnya. Kiara terlambat bekerja hampir satu jam.
Sambil mengerutkan keningnya cemas, Kiara membayangkan bagaimana marahnya sang manager cafe kepadanya. Manager cafe itu tidak pernah menyukainya, entah kenapa. Mungkin karena Kiara bertubuh kecil dan dianggapnya lemah, sama sejali tidakj bisa membantu jika ada pekerjaan berat. Selama ini dia selalu mencari-cari kesalahan Kiara, mencoba membuktikan bahwa seorang perempuan tidak cocok bekerja shift malam di sebuah cafe.
Napasnya makin terengah karena berlari makin kencang, jarak dari halte bus ke cafe memang biasanya dia tempuh sambil berjalan kaki ketika waktunya panjang, tetapi sekarang dia harus sesegera mungkin tiba di cafe itu.
Setengah melompat Kiara terburu-buru menyeberangi jalan itu, tempat cafe itu terletak diseberangnya, sampai suara rem yang berdecit kencang dekat sekali dengannya membuatnya memejamkan mata, kaget dan panik.
Aku akan mati....
Desahnya di detik-detik terakhir, tetapi ketika dia tetap memejamkan matanya, tidak terjadi apapapun. Tidak ada rasa sakit di badannya, dan bahkan dia tidak terguling jatuh tertabrak entah apapun itu. Dengan hati-hati, Kiara membuka matanya,
Kumpulan orang berkerumun melihatnya. Kiara mengernyit, orang-orang memang selalu tertarik dengan kecelakaan, dan berkerumun. Dia menatap ke samping tubuhnya dan menemukan sebuah mobil warna hitam, dekat sekali dengan tubuhnya, tampaknya mobil itu di rem tepat pada waktunya sehingga tidak menyentuhnya meskipun hanya berjarak beberapa centi dari tubuhnya.
Pintu mobil terbuka, dan seorang lelaki tampan bertubuh tinggi dengan kacamata hitam turun dari balik kemudi. Lelaki itu cemberut, dan ketika dia membuka kacamatanya, Kiara menyadari bahwa lelaki itu adalah lelaki yang sama yang membantunya semalam, salah satu pelanggan tetap cafe tempatnya bekerja.

"Dimana otakmu sehingga menyeberang terburu-buru seperti itu dan melupakan keselamatan dirimu?" Dahinya mengernyit, "Oh jangan lupa, keselamatan diriku juga, aku bisa saja membanting stir dan menabrak trotoar tadi kalau aku tidak bisa mengerem tepat pada waktunya."

Pipi Kiara memerah, malu dan gugup dimarahi di depan banyak orang begitu, meskipun banyak orang-orang yang berkerumun memutuskan pergi ketika menyadari bahwa Kiara baik-baik saja.
"Maafkan saya." Kiara bergumam lemah, sedikit gemetar tak tahan dengan tatapan tajam lelaki itu.
"Kau terluka?" tanya lelaki itu cepat, matanya menelusuri seluruh tubuh mungil Kiara.
Kiara menggelengkan kepalanya, "Tidak. Saya tidak apa-apa."
"Baguslah." Lelaki itu mendengus kesal, "Lain kali hati-hati!" dengan ucapan penutup yang sinis itu, lelaki itu membalikkan tubuhnya dan memasuki mobilnya kembali, lalu melajukan mobilnya meninggalkan Kiara yang mundur kembali ke trotoar sambil menatap mobil hitam itu melaju meninggalkannya hingga tertelan keramaian jalan raya.
Kiara menyeberang lagi, kali ini memutuskan untuk berhati-hati supaya kejadian mengerikan dan memalukan tadi tidak terulang kepadanya, lagipula dia sudah benar-benar terlambat sekarang. Kiara berdecak, manager cafenya akan berpesta pora dengan kesalahannya ini.

*** 

Ketika Kiara memasuki pintu belakang cafe itu, dia langsung berhadapan dengan Irvan, salah satu pelayan pria di cafe, lelaki itu mengangkat alisnya ketika melihat Kiara datang,
"Kami kira kau tidak datang hari ini." gumamnya dalam senyuman, Irvan memang termasuk salah satu pelayan cafe yang baik kepadanya, sementara pelayan yang lain bersikap datar dan tak peduli, "Pak manager sudah mengomel-ngomel dari tadi."
Kiara melongok ke balik punggung Irvan, mencari-cari sosok pak Sony, Manager cafe yang galak itu. Irvan tergelak melihat tingkah Kiara,
"Dia tidak ada, dia sedang di depan. Cepat ganti pakaianmu dan bekerja, berharap saja dia sudah lupa akan kemarahannya." Lelaki itu menepuk punggung mungil Kiara, memberi semangat, lalu melangkah pergi.

Kiara segera merangkapi kemejanya dengan baju pelayan, mengikat rambutnya dan kemudian melangkah dengan hati-hati ke depan. Dia sedikit mengintip dan berdebar ketika mendapati Pak Sony sedang berdiri di dekat meja kasir, sambil menghela napas panjang Kiara melangkah keluar.
Ya sudahlah... apa yang terjadi, terjadilah...
Baru beberapa langkah saja, rupanya mata pak Sony yang awas sudah langsung menangkapnya. Lelaki itu mengangkat alisnya dengan galak dan menghampiri Kiara,
"Kau pikir jam berapa ini? Kenapa kau baru menampakkan batang hidungmu heh?"
Kiara hampir saja terlompat mendengar bentakan pak Sony di belakangnya, dia membalikkan tubuhnya dengan hati-hati dan menatap takut-takut,
"Maafkan pak... saya... saya kesiangan." Kiara sendiri merasa tak enak ketika mengucapkan alasan yang paling tidak bertanggung jawab itu.
Sementara seperti yang sudah diduganya, pak Sony malahan semakin marah mendengar alasannya,
"Kau pikir perusahaan ini milik ayahmu sehingga kau bisa seenaknya datang terlambat dengan alasan kesiangan? Aku sebenarnya sudah tidak suka dengan kehadiranmu di bagian pelayan cafe ini, kau harusnya tetap berada di bagian belakang menjadi pencuci piring!"
Dan kemudian, Pak Sony memberinya hukuman mencuci piring sendirian, seluruhnya tanpa bantuan dari siapapun.

***

Setelah selesai mencuci entah ratusan piring dan panci, wajan serta peralatan masak lain yang berukuran besar dan lengket, Kiara menyandarkan tubuhnya di dinding belakangnya dan menghela napas panjang.
Entah berapa jam dia berkutat dengan kegiatan itu, ditatapnya kedua telapak tangannya dan mengernyit, kulit telapak tangannya sudah keriput karena terus-terusan terkena air dan di beberapa sisi mulai terasa pedih akibat kontak terlalu intens dengan sabun cuci.
Kiara menghela napas panjang, berusaha menyemangati dirinya sendiri dan menegakkan tubuhnya. Pekerjaannya masih banyak, dan dia harus semangat. Dia membutuhkan pekerjaan ini untuk hidupnya, Yang harus dia lakukan adalah bekerja lebih giat sambil berusaha mencari jalan untuk menemukan kesempatan yang lebih baik.

*** 

Ketika melihat tulisan di layar ponselnya, Joshua mengernyitkan keningnya. Itu telepon internasional, dari nomor yang sangat dikenalnya, pengacara ayahnya di London.
Joshua mendengus kesal, pengacara ayahnya sudah berkali-kali meneleponnya, membujuknya supaya mau berkunjung ke London, mengunjungi ayahnya yang katanya kondisi kesehatannya semakin memburuk.
Joshua sama sekali tidak tertarik menemui ayahnya, lelaki itu dulu membuangnya dan ibunya hanya karena mereka dianggap tidak sederajat dengan darah biru yang mengaliri tubuh ayahnya, apalagi mengingat ibunya seorang asia yang hanyalah seorang murid pertukaran beasiswa di kampus anaknya.
Kesalahan masa muda. .Begitu dulu komentar kakeknya..... Joshua tidak mau menyebut lelaki itu sebagai kakeknya, dia hanyalah lelaki tua aristrokat yang sombong dan tidak punya hati. Lelaki tua itu, begitu mengetahui 'kelalaian' ayahnya yang menghamili gadis asia yang dianggapnya tidak sederajat, langsung mengirimkan ayahnya bersekolah ke Amerika, dan kemudian memberi uang kepada ibunya dan mengatur kepulangan ibunya dengan paksa ke Indonesia. Ironisnya, ibunya hanyalah seorang wanita muda yang  tidak punya siapa-siapa di London yang bisa membantunya melawan ketidakadilan itu, hingga pada akhirnya dengan pasrah, membawa bayi dalam kandungannya pulang ke Indonesia.

Pada masa itu, di tempat tinggalnya, hamil sebelum menikah merupakan aib tersendiri. Orangtua ibunya marah besar ketika ibunya pulang ke Indonesia dalam keadaaan hamil, dikeluarkan dari beasiswanya karena pengaruh kalangan atas di London, dan mempermalukan keluarga. Beruntunglah seorang lelaki, sahabat ibunya di masa lalu yang sangat menyayangi ibunya memutuskan untuk bertanggung jawab kepada ibunya. Lelaki itu kemudian menikahi ibunya, menyelamatkannya dari aib keluarga dan dengan tegar tetap menopang ibunya ketika banyak pandangan mencemooh ketika ibunya melahirkan Joshua, anak lelaki dengan rambut cokelat keemasan dan mata berwarna biru.
Joshua lebih mengakui Nathan sebagai ayahnya, lelaki itu menyokong kehidupan ibunya, memperlakukan Joshua seperti anaknya sendiri, membiayai sekolahnya hingga menjadi arsitek yang sukses seperti sekarang. Sayangnya, sepertinya Tuhan terbiasa mengambil orang-orang berhati baik lebih cepat supaya bisa segera berada di sisinya. Lima tahun lalu, Nathan dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan Joshua benar-benar sendirian di dunia ini.
Ya. Dia sendirian. Ayah kandungnya di London tidak masuk hitungan. Dua tahun yang lalu, nama Joshua sebagai arsitek jenius dimuat dalam sebuah artikel bisnis di London, kabar tentang dirinya sampai ke telinga ayah kandungnya yang saat ini sudah memegang kerajaan bisnis besar mewarisi kakeknya yang sudah meninggal, ternyata menyadari bahwa dia berhubungan dengan Joshua, sepertinya lelaki itu menyewa detektif swasta karena beberapa lama kemudian, pengacaranya menelepon Joshua, mengatakan bahwa ayah Joshua mengharapkan kedatangannya ke London,
Joshua meradang. Punya hak apa lelaki itu sehingga tiba-tiba memasuki kehidupannya dan memaksa Joshua menerimanya? Joshua sudah tentu tidak butuh ayahnya, dia lelaki yang sukses dengan kemampuannya sendiri, dan sama sekali tidak membutuhkan apapun dari ayahnya yang tidak bertanggungjawab kepadanya dan ibunya di masa lampau.
Tetapi ponselnya berdering terus. Pengacara ayahnya di seberang sana rupanya tidak mau menyerah, dia pasti menyadari keengganan Joshua, karena itulah dia terus menerus memaksa. Dengan jengkel Joshua mengangkat telephone itu.
"Ayah anda sekarat." Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh pengacara ayahnya dalam bahasa inggris berlogat kental  ketika mendengar Joshua mengucapkan "halo".
Josua mengeluarkan suara decakan tidak peduli bergumam dengan bahasa ayahnya, "Memang sudah saatnya."
Hening. Pengacara ayahnya di seberang sana mungkin sedang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa kejamnya Joshua kepada ayahnya. Dia lalu bergumam lagi tampaknya berusaha menyabarkan diri,
"Beliau tidak punya anak laki-laki, sementara itu warisan gelarnya harus diserahkan kepada anak laki-lakinya, kalau tidak warisan itu akan diambil oleh sepupu jauhnya. Ayah anda bersikeras untuk memberikan warisan gelar dan seluruh hartanya kepada anda."
"Aku tidak butuh gelar dan harta."
"Saya tahu itu." suara pengacara ayahnya melemah, "Yang perlu anda tahu, isteri ayah anda yang sekarang mempunyai dua orang anak perempuan yang dibawanya dari pernikahan sebelumnya, jadi anak itu selain perempuan, juga bukan merupakan darah daging ayah anda. Dan kalau anda mau tahu pendapat saya, lebih baik harta itu jatuh ke tangan anda daripada jatuh ke tangan nenek sihir itu. Dia akan menguras habis seluruh harta ayah anda begitu ada kesempatan, dan saya mohon kepada anda karena hanya andalah satu-satunya yang bisa menjaga warisan ayah anda."

*** 
Joshua memandang berkas-berkas yang pernah dikirimkan oleh pengacara ayahnya kepadanya. Berkas itu berisi inventarisir mengenai seluruh harta yang dimiliki ayahnya, mencakup saham mayoritasnya di perusahaan miliknya juga beberapa properti seperti rumah dan tanah. 
Joshua bisa saja mengabaikan itu semua dan menjalani hidupnya dengan tenang. Toh dia tidak ada hubungannya dengan semua orang itu. Kalau memang harta ayahnya akan jatuh ke tangan isterinya yang tamak, itu mungkin itu memang balasan yang setimpal untuk ayahnya.
Tetapi godaan untuk membalas dendam terasa begitu kuatnya. Ayahnya sekarang memohon agar dia mau menerima gelar dan warisannya, gelar yang dulu membuat dia dan ibunya ditendang dari kehidupan ayahnya. Ada kepuasan tersendiri ketika membiarkan lelaki tua itu memohon-mohon kepadanya.
Joshua tiba-tiba tersenyum sinis. Otaknya berputar mencari cara, menemukan jalan membalas dendam yang paling menyakitkan untuk ayahnya dan keluarga angkatnya di London.

***

Lelaki itu datang lagi. Kiara mengintip dari balik tirai yang membatasi areal dapur dengan bagian luar cafe. Lelaki itu tampak sangat misterius, selalu datang pada waktu dini hari, kadang hanya merokok dan menikmati secangkir kopi, kadang dia tampak sibuk berkutat dengan laptopnya, dan kemudian baru beranjak ketika pagi menjelang.
Apakah lelaki itu tidak pernah tidur?
"Mengintip apa?" tiba-tiba Irvan muncul di belakangnya, ikut melirik dari balik tirai dan membuat Kiara kaget setengah mati, dia hampir terlompat dan kemudian menatap Irvan dengan jengkel.
"Bisa tidak jangan muncul tiba-tiba di belakangku?" gumam Kiara setengah marah setengah tersenyum. Karena Irvan yang paling baik kepadanya di cafe ini, mereka cukup akrab untuk saling mengejek ataupun bercanda.
Irvan terkekeh dan mengedipkan matanya, menatap ke arah lelaki penyendiri itu,
"Kau mengintip lelaki itu ya?" bisiknya menggoda, "Karena dia sangat tampan?"
Kiara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Aku hanya penasaran kenapa dia selalu duduk di situ sepanjang malam hingga pagi, apakah dia tidak tidur?"
Irfan mencibirkan bibirnya, "Kalau tida tidak tampan pasti kau juga tidak tertarik."
Pipi Kiara langsung merah padam, tidak bisa berkata-kata. Tidak bisa dipungkiri lelaki itu memang sangat tampan.....  tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa dijelaskan, sesuatu yang tersimpan dalam dan kelam. Dan Kiara memahaminya, batinnya bertanya-tanya, apakah lelaki itu memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan seperti dirinya?
"Jangan hanya berdiri di situ! Bersihkan meja-meja kotor itu!"
Suara Pak Sony yang galak mengagetkan Kiara dan Irvan, mereka bergegas menuju area cafe dan melaksanakan tugas, menghindar dari semprotan lelaki pemarah itu.
Dengan ragu, Kiara membersihkan meja kotor yang terletak di sudut, dekat dengan lelaki itu. Lelaki itu mengalihkan tatapannya dari laptopnya dan ada sinar di matanya ketika menatap Kiara.
"Kenapa perempuan sepertimu bekerja di shift malam seperti ini?" gumam Joshua dengan suara datar, menatap Kiara dengan seksama dari ujung kaki ke ujung rambutnya. Mereka berada cukup dekat karena meja yang dibersihkan ioleh Kiara ada di dekat meja tempat Joshua duduk, karena itu Joshua bisa bergumam pelan dan bisa didengar oleh Kiara.
Kiara merasa tidak nyaman dengan tatapan yang menelanjangi itu, dan dia tidak menduga lelaki itu akan menyapanya,  dia memalingkan mukanya, 
"Karena memang hanya pekerjaan ini yang bisa saya lakukan."
Joshua kali ini benar-benar mengalihkan perhatiannya seluruhnya kepada Kiara, "Masih banyak pekerjaan lain yang bisa dilakukan perempuan sepertimu."
Apakah lelaki ini adalah jenis lelaki mesum yang menawarkan pekerjaan mesum kepada perempuan lugu seperti dirinya?
Kiara memandang Joshua dengan was-was, "Hanya pekerjaan ini yang mau menerima saya. Saya memang lulusan sebuah SMU di desa, Ketika pergi saya membawa ijazah SMU dan harapan untuk hidup yang lebih baik, tetapi rupanya banyak yang tidak menghargainya di kota ini karena banyak saingan dengan pendidikan lebih tinggi tetapi mau digaji sama.."
"Pergi dari mana?" lelaki itu bertopang dagu, tampak tertarik, mungkin baginya Kiara adalah selingan menarik di sela-sela kegiatan bersantainya.
Kiara mendongakkan dagunya, "Dari panti asuhan." dia melirik tidak nyaman kepada Joshua, karena sungguh tidak lazim seorang pelanggan bercakap-cakap dengan pelayan cafe seperti ini, bahkan pak Sony tampak menatap mereka tanpa malu-malu. "Saya harus pergi."

"Tunggu." Joshua meraih tangan Kiara, dan menggenggamkan sesuatu di tangannya, "Jangan kembalikan, karena aku cukup kaya dan aku tidak butuh ini."
Kiara segera melepaskan diri dari cekalan tangan Joshua dan melangkah memasuki area belakang dapur, karena pak Sony menatapnya dengan tatapan mencemooh yang tajam, mungkin lelaki itu mengiranya sedang merayu pelanggan.
Ketika sampai di area belakang dapur yang sepi, dekat tempat cuci piring, Kiara membuka kepalan tangannya dan menatap sesuatu yang dijejalkan lelaki itu dalam genggaman tangannya.
Selembar uang merah seratus ribuan....
Kiara bergegas melangkah ke depan untuk mengembalikan uang itu. Lalu dia tertegun.
Kursi tempat lelaki itu biasa duduk sudah kosong. Lelaki itu sudah tidak ada....




No comments:

Post a Comment