Monday, October 12, 2015

SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 3


BAB 3

“Sakit!!,”
Lana menjerit, berusaha mendorong tubuh Mikail. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan keinginan untuk dipenuhi gairahnya. Sebutir air mata menetes dari sudut matanya, sisa-sisa dari kesadarannya yang tertinggal.
Mikail mendesakkan dirinya sedalam mungkin, akhirnya berhasil menembus penghalang itu, mengabaikan jeritan kesakitan Lana.
Ketika akhirnya jeritan Lana mereda. Mikail mengangkat kepalanya, dan mengecup lembut bibir Lana yang terbuka dan terengah-engah,
“Setelah ini…. Aku akan mengajarkanmu bagaimana memuaskanku,” ucapan itu menggema di dalam ruangan, bagaikan janji dari sang kegelapan.
Dan Lana, sudah benar-benar kehilangan kesadarannya, tubuhnya menggeliat merasakan kenikmatan yang menggelenyar ketika rasa sakit itu akhirnya menghilang. Berganti dengan kenikmatan panas yang membagikan gelenyar menyiksa ke seluruh tubuhnya.
Mikail merasakan gerakan pinggul Lana, merasakan denyutannya yang menggenggam panas tubuhnya, yang tertanam jauh di dalam tubuh Lana. Mendesak dengan berani, menarik Mikail lebih dan lebih dekat lagi.
Mikail menggertakkan gigi, menahan diri, membiarkan Lana menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan sesuka hati.
Dan tidak butuh waktu lama ketika akhirnya perempuan itu mencapai pemenuhan kepuasannya,
“Oh… oh … Astaga…,” Lana memejamkan mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas yang tak tertahankan.
Dan walaupun Mikail bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, pemandangan akan orgasme Lana dan denyutan Lana yang meremas dirinya, jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Detik itu pula, Mikail meledakkan gairahnya bergabung dengan Lana dalam gairah yang melemahkan.

***

Entah apa yang membuat Lana terbangun dari tidurnya yang lelap, rasa sakit yang aneh di badannya, ataukah cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Lana membuka matanya. Sekilas pandangannya terasa kabur, dan dia mencoba untuk memfokuskan dirinya.

Kamar itu, dengan nuansa putih yang feminim….

Kilasan-kilasan ingatan berkelebat di benaknya, dia masih di sekap di sini, di dalam kamar di rumah Mikail yang jahat.  Dengan panik Lana terduduk dari ranjangnya, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi dadanya, melorot? Lana menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau dia telanjang bulat di balik selimutnya, apa yang….. “Selamat Pagi”
Suara maskulin itu terdengar dekat sekali dan Lana menolehkan kepalanya kaget, Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak. Mikail ada di sana, di ranjangnya, mereka ada dalam selimut yang sama, dan menilik kepada selimut Mikail yang hampir saja melorot di pinggulnya, mereka sama-sama telanjang!
Lana masih terperangah menatap pemandangan di depannya. Mikail berbaring dengan angkuhnya, jelas-jelas telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat yang memiliki.
Dengan panik Lana menarik selimutnya hampir untuk menutupi seluruh dadanya, tetapi gerakannya itu malahan membuat selimut Mikail melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya. Dengan malu Lana memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman jahat Mikail.
Keberanian dan kemarahan Lana langsung muncul ketika menyadari rasa pedih di antara ke dua pahanya. Lelaki ini memperkosanya! Entah apa yang terjadi semalam, Lana tidak ingat sama sekali. Tapi yang pasti, dia sudah dinodai oleh iblis berhati kejam ini.
“Kau sungguh iblis yang tidak bermoral, mengambil keuntungan dari perempuan yang sangat membencimu!,” desis Lana menahan marah, masih tidak mau menatap Mikail
Mikail terkekeh mendengar suara geram Lana, “Membenciku?,” dengan santai lelaki itu berdiri, tak malu dengan tubuh telanjangnya yang berotot, “Lihat aku Lana, kau meninggalkan tanda-tanda di tubuhku, kau sangat bergairah semalam, seperti Kucing betina yang mencakar di sana sini untuk dipuaskan…. Dan atas gairahmu semalam, aku tidak yakin kalau kau membenciku” Lana melirik sekilas ke tubuh telanjang Mikail yang berdiri di samping ranjang, mukanya merah padam karena malu.
Bekas-bekas itu ada, tanda-tanda merah di dada, di pinggul Mikail, di dekat kejantanannya…. Apakah dia yang melakukannya??
“Ya. Kau yang melakukannya.” Ada senyum di suara Mikail, “Dengan sangat bergairah dan lapar. Aku cuma berbaring di sana dan kau menyantapku bulat-bulat, sepanjang malam”
Kelebatan ingatan akan percintaan yang panas muncul di ingatan Lana, samar-samar dan tidak jelas. Tapi dia tidak mampu mengingat semuanya, kenapa dia tidak mampu mengingat semuanya?
Lana teringat minuman yang di berikan Norman semalam, dan rasa muaknya memuncak ketika menyadari ada sesuatu yang dicampurkan di situ, dengan mata menyala-nyala. Dikuasai oleh kemarahan yang campur aduk menjadi satu, Lana menantang tatapan Mikail, mencoba tidak mempedulikan ketelanjangan Mikail.
“Aku selalu mendengar kau jahat dan licik, tapi aku sungguh tak menyangka kau serendah itu, menggunakan obat untuk memaksa perempuan yang jijik kepadamu supaya mau melayanimu!”
Sepertinya kata-kata Lana mengena di hati Mikail karena rahang lelaki itu tampak mengeras, marah. Dengan kasar, Mikail menyambar jubah sutra hitamnya dan mengenakannya. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, naik ke atas ranjang dan mencengkeram rahang Lana dengan sebelah tangannya. Cengkeraman itu terasa keras dan menyakitkan sehingga Lana mengernyit. Tetapi Lana menahan diri untuk tidak mengaduh, dia tidak mau memberikan kepuasan kepada lelaki itu.
“Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti, kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Mikail Raveno tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu.. atau aku membunuhmu!”
Dengan kasar Mikail melepaskan cengkeramannya di rahang Lana, membuat tubuh Lana terdorong lagi ke ranjang. Lalu dengan langkah tegas, Mikail melangkah keluar kamar sambil membanting pintu di belakangnya.

***

Lana masih termangu di ranjang, lalu kilasan rasa sakit di antara pahanya menyadarkannya. Noda darah itu tampak mencolok di seprai putih itu, tampak menertawakannya.
Sungguh ironis, keperawanannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuh Lana gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri.
Noda merah di ranjang itu sangat mengganggunya, hingga dengan kasar Lana merenggut seprai itu dan membantingnya ke lantai. Napas Lana terengah-engah dan entah kenapa kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi.
Ingatannya melayang kepada ayah dan ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan, dan kepada nasibnya yang membuatnya terperangkap di sini, dalam cengkeraman musuh besarnya.
Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman Mikail, dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi lelaki itu.
Lana mengusap air matanya tiba-tiba. Tidak! Dia sudah cukup menangis, dia harus melawan, dengan segala cara!
Dengan pelan Lana melangkah ke kamar mandi, dia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang ditinggalkan Mikail di tubuhnya.
Mikail boleh saja menodainya, tetapi bukan berarti lelaki itu memilikinya. Lana wanita bebas, wanita bebas yang bertekad untuk menghancurkan Mikail. Tunggu saja, dia hanya belum punya kesempatan.

***

Lana hanya duduk di kursi putih itu putus asa sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri.
Putus asa, Lana duduk sambil memeluk lututnya, Kalau begini, bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah ini? Sedangkan keluar dari kamar ini saja dia tidak mampu. Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu satu satunya jalan.
Tetapi yang bisa keluar masuk dari pintu itu hanya Mikail, dan juga seorang lelaki bertampang dingin bernama Norman, yang selalu ada di sebelah Mikail setiap ada kesempatan. Lelaki bertampang dingin itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya.


Pikiran Lana berputar… memang rasanya tidak mungkin, jika tidak dicoba dia tidak akan tahu…
Seperti sudah diatur, pintu kamar itu terbuka, dan Lana langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun yang akan masuk.
Norman muncul di sana membawa nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Lana langsung sengaja memasang wajah kesakitan,
“Aku minta tolong….,” rintihnya sesakit mungkin. Norman mengernyit dan mendekat,
“Ada apa nona?’
“Aku… aku mau muntah… tolong aku,” Lana meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin.
Dan sepertinya Norman tidak curiga, lelaki itu mendekat, dan menatap Lana,
“Kau mau dibantu ke kamar mandi?” Lana mengangguk lemah. Dengan tangan kuatnya, Norman membantu Lana berdiri dan memapah tubuh Lana yang lunglai ke kamar mandi. Ketika Norman membuka pintu kamar mandi, Lana berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga Norman langsung bergegas membawanya ke kamar mandi, Di wastafel, Lana menundukkan kepalanya seolah-olah akan muntah hebat,
“Handuk… tolong….,” gumam Lana lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi, Masih tanpa curiga, Norman melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilal Lana melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi.
Norman menyadari kalau dia ditipu ketika melihat kelebatan langkah cepat Lana. Dia berusaha mengejar tapi terlambat, Lana yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.
Dengan napas terengah karena pacuan adrenalin, Lana menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, memejamkan mata, tak peduli akan gedoran-gedoran marah Norman dari dalam,
“Kau tidak akan bisa melarikan diri,” ancam Norman, berteriak dari dalam, “Tuan Mikail pasti akan menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan Mikail marah, kau akan menyesalinya”
Teriakan-teriakan Norman makin keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu, Kata-kata Norman sempat membuat hati Lana kecut, tapi dia menggelengkan kepalanya, Mikail memang lelaki kejam, tetapi Lana tidak boleh takut. Dia harus berani menantang Mikail, menunjukkan pada lelaki itu kalau dia bukanlah perempuan yang bisa ditundukkan dengan begitu mudahnya.
Dengan langkah hati-hati, Lana membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada penjaga yang menjaga di pintu. Tetapi rupanya Mikail beranggapan Lana terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga di pintu. Lorong itu kosong. Dengan hati-hati Lana melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan Norman masih terdengar ketika Lana keluar, tetapi ketika Lana menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.
Lana melangkah lagi melewati lorong itu. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke tangga spiral yang besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, Lana mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang dia lihat kemarin?
Pelan dan waspada, Lana melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di belakangnya,
“Kau pikir kau akan kemana?”

***
Terlonjak kaget, Lana membalikkan badan dan hampir menabrak dada bidang Mikail. Lelaki itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.
“Berani sekali kau mempermalukan Norman seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku,” Tangan besar Mikail mencengkeram lengan Lana dengan kasar lalu menyeret Lana yang tidak bersedia.
Lana meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi Mikail tidak peduli, tetap menyeret Lana dengan kekuatan besarnya. Hingga Lana mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya putus.
Mikail menyeret Lana menaiki tangga dan kembali menuju kamar putih tempat Lana tadi dikurung.
Di sana beberapa pengawal Mikail berkumpul, dan Norman berdiri di sana. Rupanya dia berhasil menghubungi Mikail dan dibebaskan dari kamar mandi.
Lana mengernyit dalam hati, seharusnya tadi dia lebih cepat, atau mungkin dia pukul kepala Norman dengan sesuatu sehingga lelaki itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya dengan segera.
Mikail melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Lana ke depan dengan kasar,
“Kau lihat Norman? Perempuan kecil seperti ini, dan kau, pengawalku yang sudah bertahun-tahun lamanya bisa-bisanya dibodohi seperti ini”
Norman hanya terdiam, menatap Mikail dengan muka datar, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Lana. Hingga Lana mengernyit, apakah lelaki ini memang tidak punya ekspresi?
“Dan kau Lana,” Mikail melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, “Ini adalah peringatan untukmu. Kalau kau membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku,”
Tanpa dinyana, Mikail menghantam Norman dengan satu pukulan telak hingga kepala Norman mundur ke belakang, darah menetes dari sudut bibirnya.
Lana terkesiap mundur dan makin terkesiap ketika Mikail menghajar Norman, lagi dan lagi tanpa perlawanan hingga lelaki itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang mengotori kemejanya.
Mikail mundur satu langkah ketika Norman terjatuh, dia menoleh dan menatap Lana,
“Kalu lihat itu Lana? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu. Mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!,”
Dengan kejam Mikail mengarahkan pukulannya sekali lagi ke arah Norman. Lana berteriak, spontan mencengkram lengan Mikail yang terayun, mencegah Mikail menghabisi Norman,
“Jangan…. ! Jangan ! Aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh dia! Aku yang salah ! “, teriaknya panik.
Mikail terdiam dan mematung, ketika akhirnya dia menatap Lana, matanya sedingin es. Lelaki itu tampak amat sangat marah kepada Lana.
“Jadi kau mengaku salah..,” Mikail mundur lagi dan Lana merasa lega luar biasa karena lelaki itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepada Norman yang sudah berlutut tak berdaya di lantai. 
“Aku hanya ingin keluar dari tempat ini,” teriak Lana marah, frustrasi karena Mikail menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.
“Kau milikku, dan tidak ada milikku yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku”
“Atas dasar apa??,” Lana berteriak marah, “Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi lelaki jahat sepertimu. Aku cuma mau keluar dari sini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini….Aku cuma mau keluarr!!!!
“Kau mau keluar hah??,” Mikail mencengkeram lengan Lana lagi, di tempat yang sama hingga Lana merasa lengannya memar,
 “Mari kita keluar!”

***

Tak ada yang berani menolong ketika Lana berteriak-teriak dalam seretan Mikail.
Sepertinya kemarahan Mikail adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu. Mikail membawa Lana ke ujung lorong, ke jendela kaca lantai dua yang mengarah langsung ke balkon.
Dengan kasar Mikail mendorong Lana keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Lana mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke kolam renang yang sangat luas di bawahnya.
Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Lana bergidik. Dia tidak bisa berenang, apakah Mikail akan mendorongnya ke bawah?
Mikail benar-benar mendesak tubuh Lana sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah, sementara tangannya di kekang oleh Mikail di belakangnya,
“Kau lihat itu? Salah sedikit aku melemparmu ke bawah, kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam,” napas Mikail sedikit terengah oleh kemarahan, “Kau perempuan tak tahu diuntung, harusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa hidup sampai sekarang…. Tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau”
“Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan iblis seperti kau.” Lana berteriak berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa. “Perempuan tidak tahu terima kasih,” Mikail mendorong Lana  lagi sampai ke ujung, “Ada kata-kata terakhir?”
Lana memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya
yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Mikail,
“Terima kasih karena sudah membebaskanku” Lalu tubuh Lana terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu. Setidaknya kalau aku mati, aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, Ayah….
Sedetik kemudian, tubuh Lana terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam. Lana tidak berusaha menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu.  Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.

Oh Tuhan… aku akan mati….

***
Ketika Lana sudah sampai di titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya di kolam.
Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke permukaan. Tubuh lemas Lana dibaringkan di lantai di pinggiran kolam, lalu dia merasakan perutnya di tekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar.
Lana memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati? Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Lana. Mata Lana mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya,
“Panggil Dokter”
Itu suara Mikail. Apakah Mikail yang menyelamatkannya? Lagipula… kenapa lelaki itu menyelamatkannya?
***




No comments:

Post a Comment